Volubit.id — Dunia kripto kembali diguncang kabar mengejutkan. Perusahaan di balik blockchain Kadena (KDA) secara resmi mengumumkan penghentian seluruh kegiatan operasionalnya.
Meski jaringan blockchain Kadena akan tetap berfungsi karena bersifat terdesentralisasi, pengumuman ini langsung memicu kejatuhan harga token KDA lebih dari 50% dalam waktu singkat.
Menurut data dari CoinMarketCap, harga KDA kini berada di kisaran $0,09177, turun sekitar 56,3% setelah pengumuman. Harga ini juga telah anjlok lebih dari 99% dari rekor all-time high (ATH) di $28,25 pada 2021.

Dalam pernyataannya di X, tim Kadena menyampaikan perusahaan tidak lagi mampu melanjutkan kegiatan bisnis. Penghentian seluruh aktivitas operasional serta pemeliharaan blockchain Kadena ini diklaim disebabkan oleh kondisi pasar.
“Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Sayangnya, karena kondisi pasar, kami tidak dapat lagi melanjutkan promosi dan dukungan terhadap platform terdesentralisasi ini,” tulis Kadena.
KADENA PUBLIC ANNOUNCEMENT
We regret to announce that the Kadena organization is no longer able to continue business operations and will be ceasing all business activity and active maintenance of the Kadena blockchain immediately.
We are tremendously grateful to everybody who…
— Kadena (@kadena_io) October 21, 2025
Awalnya, banyak pengguna menduga akun X Kadena diretas, karena pengumuman itu dianggap terlalu tiba-tiba. Sejumlah investor bahkan sempat melakukan aksi “buy the dip”, berharap berita itu hanyalah kabar palsu.
Namun spekulasi tersebut segera terbantahkan setelah tim Kadena mengonfirmasi melalui Discord bahwa penutupan ini benar-benar resmi dan final.
Thought it was a hack but signs are aligning that it’s true. @kadena_io has officially closed all business operations and has abandoned the project with no explanation whatsoever.
Confirmed by the team @ Discord.
People including myself believed in this project and have been… https://t.co/HQL0tWHNbX pic.twitter.com/TtZYz51uE9
— Flnal (@osrsof2007) October 21, 2025
Perusahaan menegaskan blockchain Kadena akan tetap berjalan tanpa keterlibatan organisasi. Hanya ada tim transisi kecil yang akan memastikan proses pelepasan berjalan dengan lancar.
“Blockchain Kadena tidak dimiliki atau dioperasikan oleh perusahaan. Sebagai blockchain smart contract berbasis proof-of-work yang sepenuhnya terdesentralisasi, jaringan ini dijalankan oleh para penambang independen, sementara smart contract dan protokolnya dikelola oleh komunitas,” tambah pernyataan tersebut.
Para pengembang menyebut akan merilis pembaruan perangkat lunak (binary) agar jaringan tetap berfungsi tanpa dukungan langsung dari perusahaan. Operator node pun didorong untuk segera memperbarui sistem mereka demi menjaga keamanan dan stabilitas jaringan.
Selain itu, jadwal distribusi token KDA akan tetap berjalan sesuai rencana. Sekitar 566 juta KDA masih akan didistribusikan sebagai rewards penambangan hingga tahun 2139, sementara 83,7 juta token lainnya akan terbuka hingga 2029.
Dengan demikian, meski entitas Kadena bubar, ekonomi blockchain-nya masih akan terus berjalan lebih dari satu abad di bawah kendali para penambang.
Didirikan dari Ambisi Besar
Kadena didirikan pada 2019 oleh Stuart Popejoy dan William Martino, dua mantan pekerja JPMorgan yang membantu bank raksasa itu mengembangkan teknologi blockchain internal.
Setelah keluar dari JPMorgan, keduanya meluncurkan proyek independen dengan mainnet Kadena yang mulai beroperasi pada Januari 2020. Arsitektur jaringannya diklaim mampu menghadirkan skalabilitas dan kemampuan smart contract tanpa mengorbankan keamanan.
Dengan mekanisme proof-of-work seperti Bitcoin dan Dogecoin, Kadena dipasarkan sebagai “blockchain untuk bisnis.” Dalam wawancara tahun 2020, pendirinya bahkan menyebut Kadena bisa menjadi lebih besar dari Bitcoin dan lebih terpercaya daripada Ethereum.
Selama perjalanannya, Kadena berhasil mengumpulkan hampir $15 juta dari beberapa putaran pendanaan dan sempat memiliki kantor pusat di New York. Pada 2022, Kadena meluncurkan program hibah senilai $100 juta untuk menarik pengembang Web3 membangun proyek di jaringannya.
Namun, seiring waktu, hype tersebut tak pernah terwujud. Volume perdagangan KDA kini hanya sekitar $117 juta per hari, jauh tertinggal dibandingkan Bitcoin sebesar $95,6 miliar dan Ethereum sebesar $42,9 miliar.
Menariknya, Kadena pernah menjadi salah satu proyek yang didukung oleh Binance Labs dan juga terdaftar di exchange Binance. Pada masa jayanya pada 2021, Kadena sempat mencapai kapitalisasi pasar $3 miliar, yang menjadikannya salah satu proyek paling panas di dunia kripto.
Beberapa pihak bahkan menjulukinya “Solana killer.” Namun kini, seperti kata sebagian pengamat, Kadena justru membunuh dirinya sendiri.
Meski situasi tampak suram, sebagian anggota komunitas mencoba berpikir positif. Mereka berpendapat tim Kadena telah menuntaskan misinya dengan merilis teknologi dan membuka open source, seperti halnya Bitcoin. Kini, proyek tersebut sepenuhnya berada di tangan komunitas dan para penambang.
Namun banyak pihak menilai, Kadena tak akan mampu menyamai Bitcoin, baik dari segi daya tarik, stabilitas, maupun adopsi pasar. Tanpa dukungan tim inti yang kuat, upaya komunitas sering kali berakhir tanpa hasil.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan menurunnya partisipasi penambang dan melemahnya dukungan terhadap jaringan. Sejumlah analis bahkan menilai masa depan KDA kini sangat suram, meski secara teknis blockchain-nya masih berjalan.
Kejatuhan Kadena menjadi peringatan keras bagi industri kripto. Proyek dengan teknologi canggih, tim berpengalaman, dan dukungan dana besar sekalipun tidak kebal terhadap tantangan pasar.
Pengamat menilai, ke depan proyek blockchain harus lebih fokus pada utilitas nyata, transparansi, dan keberlanjutan ekonomi, daripada sekadar mengandalkan spekulasi pasar dan promosi berlebihan.



FROM CLASSROOM
TO THE MOON
Jadilah bagian dari kelas kripto eksklusif pertama di Bandung
Daftar sekarangMEMBERSHIP
Jadilah bagian dari kelas kripto eksklusif pertama di Bandung
Daftar sekarang