Volubit.id — Belakangan ini, narasi meta neobank kripto ramai dibincangkan. Narasi ini mengawinkan dua dunia yang selama ini tampak berseberangan:desentralisasi dan perbankan. Jika dulu bank adalah simbol institusi mapan yang tak tersentuh oleh kripto, kini banyak proyek justru berambisi membangun versi onchain dari lembaga keuangan itu, lengkap dengan rekening, kartu debit, hingga layanan bunga. Semua tanpa kantor cabang, tanpa pegawai bank, dan tanpa izin otoritas tradisional.
Neobank kripto menjadi jargon baru untuk mendefinisikan masa depan uang digital yang lebih fungsional, bukan sekadar spekulatif. Di titik ini, banyak proyek berlomba menjadikan blockchain sebagai tulang punggung sistem keuangan sehari-hari. Mereka menawarkan cara baru bertransaksi, menabung, bahkan memperoleh bunga tanpa kehilangan kendali atas aset sendiri. Dari Istanbul hingga Buenos Aires, dari pengguna MetaMask hingga nasabah Visa, gelombang neobank kripto tampak mulai membentuk wajah baru finansial global.
1. Plasma Finance (Plasma One)
Diluncurkan pada September 2025, Plasma One muncul sebagai neobank kripto pertama yang menaruh stablecoin sebagai pusat gravitasi produknya. Proyek ini lahir dari ekosistem Plasma Finance, blockchain Layer 1 yang didukung langsung oleh Tether (USDT) dan nama besar seperti Paolo Ardoino (Bos Tether) serta Peter Thiel (cofounder PayPal).
Tujuannya sederhana tapi ambisius: menjembatani kripto dan dolar di negara-negara berkembang yang haus stabilitas finansial seperti Istanbul, Buenos Aires, dan Dubai. Plasma One memungkinkan siapa pun membuka rekening on-chain dengan mudah melalui waitlist, tanpa perlu lewat bank konvensional.
Di balik antarmukanya yang minimalis, Plasma One memadukan fungsi rekening digital, dompet, dan penghasil bunga. Pengguna dapat menyimpan USDT, membelanjakannya lewat kartu debit Visa dengan cashback hingga 4%, atau memperoleh yield lebih dari 10% dari stablecoin yang disimpan. Transfer USDT antar pengguna pun tanpa biaya, dengan akses di 150 negara dan 150 juta merchant di seluruh dunia.
Berbeda dari neobank tradisional, Plasma One bersifat non-custodial. Di sinilah letak revolusinya: neobank yang memadukan kenyamanan bank dengan kebebasan DeFi, dan menjadikan stablecoin sebagai jembatan baru bagi inklusi finansial global.
Introducing Plasma One: the one app for your money. pic.twitter.com/5IgcCon5g8
— Plasma (@Plasma) September 22, 2025
2. EtherFi
Bagi komunitas Ethereum, nama ether.fi sebelumnya dikenal sebagai pionir di dunia restaking. Namun sejak April 2025, proyek ini berbelok arah: membangun neobank kripto-native yang sepenuhnya terdesentralisasi.
Lewat ether.fi Cash dan DeFi Bank, mereka menghadirkan pengalaman finansial yang akrab bagi pengguna Web2—membayar tagihan, menerima gaji, hingga bertransaksi dengan kartu kredit Visa—namun semuanya berbasis kripto dan non custodial. Kartu ether.fi Cash Card mendukung Apple Pay dan Google Pay, bisa digunakan di lebih dari 100 juta merchant, dan menawarkan cashback 3–5% hingga akhir 2025.
Sementara itu, fitur vault yield otomatis memberikan imbal hasil hingga 10–20% APY melalui integrasi dengan Aave V3, Fluid, Eclipse, dan Swell. Pengguna bahkan bisa meminjam dana tanpa menjual aset kripto yang dimiliki. Semua transaksi berjalan di atas Scroll Layer 2, menjanjikan biaya murah dan kecepatan tinggi.
EtherFi memposisikan diri sebagai alternatif nyata bagi bank modern, tanpa manajer, tanpa cabang, dan tanpa kehilangan privasi. Di baliknya, mereka telah menyiapkan dana kemitraan senilai $500 juta, termasuk kolaborasi dengan Plasma, untuk memperluas jangkauan global neobank kripto mereka.
Today is a good day to sign up for https://t.co/Q3fKrgeQXw
Start working your way from Core -> VIP to go from 2-4% cashback on all your daily spending.
Pay your mortgage, pay for groceries, pay for taxes.
Just don’t pay with 0% back from your bank. pic.twitter.com/M5E2A6aUbN
— ether.fi (@ether_fi) October 21, 2025
3. MetaMask
Sebagai dompet kripto paling populer di dunia, MetaMask sudah dikenal luas sebagai gerbang utama menuju Web3. Tapi sejak Maret 2025, MetaMask mengambil langkah berani: berubah dari sekadar wallet menjadi neobank kripto global.
Lewat kerja sama dengan Mastercard dan Baanx, mereka meluncurkan MetaMask Card, kartu debit yang memungkinkan pengguna menghabiskan aset kripto langsung dari dompet non-custodial mereka. Kartu ini berfungsi di 150 juta merchant Mastercard, lengkap dengan cashback 1–3%, integrasi dengan Apple dan Google Wallet, serta pilihan kartu metal premium seharga $199 per tahun.
MetaMask juga mengumumkan kemitraan dengan Stripe untuk menghadirkan stablecoin native, memperluas layanan fiat to kripto secara mulus. Dengan MetaMask Card, pengguna dapat berbelanja kopi pagi menggunakan ETH, membayar tagihan dengan stablecoin, atau bahkan menukar token dan melakukan staking tanpa meninggalkan aplikasi.
4. Payy
Didirikan pada 2022 oleh Sid Gandhi, mantan engineer iOS di Apple, Payy muncul dengan gagasan yang sederhana: menjadikan kripto terasa semudah Venmo. Setelah dua tahun pembangunan, aplikasi Payy hadir di Google Play dan App Store pada Mei 2024 dan langsung menarik perhatian dengan desainnya yang intuitif dan konsep privasi yang kuat.
Berbeda dari kebanyakan proyek kripto yang rumit, Payy menyembunyikan kompleksitas blockchain. Tak ada alamat panjang, tak perlu gas fee rumit. Pengguna cukup membuat “magical payment links” untuk mengirim stablecoin tanpa biaya ke siapa pun lewat WhatsApp dan Telegram, bahkan penerima yang belum punya akun Payy.
Payy menggabungkan semua fungsi finansial ke dalam satu aplikasi: wallet self-custodial, penghasil bunga, on ramp fiat global, hingga Payy Card, kartu Visa virtual dan fisik yang dirilis pada Agustus 2025. Kartu ini memungkinkan pengeluaran stablecoin secara privat berkat teknologi zero-knowledge proof (ZK) yang menyembunyikan jumlah transaksi di blockchain publik.
Really great stablecoin card payment ux from @payy_link. Straightforward, low barrier, easy to use, spendable dollars onchain. pic.twitter.com/gaVp59r7E2
— John Egan (@john3gan) September 30, 2025
5. Gnosis (Gnosis Pay)
Dari proyek prediction market di awal berdirinya tahun 2015, Gnosis kini menjelma menjadi pionir neobank di dunia blockchain lewat Gnosis Pay. Sejak diluncurkan pada 2024, Gnosis Pay mengusung konsep rekening giro on-chain pertama di dunia—menggabungkan teknologi blockchain dengan pengalaman bank tradisional.
Berbasis Gnosis Chain (dulu xDai), Gnosis Pay memungkinkan pengguna menghubungkan dompet kripto mereka dengan sistem pembayaran fiat. Pengguna bisa membayar dengan EUR, GBP, USDC, atau stablecoin lokal seperti EURe dan GBPe, di lebih dari 80 juta merchant di 100 negara. Semua bisa diakses lewat Apple Pay dan Google Pay, tanpa perantara terpusat.
Kartu Visa Gnosis Pay menawarkan cashback 1–4% dalam token GNO, airdrop mingguan untuk pengguna aktif, serta bonus khusus bagi pemilik NFT OG. Dengan integrasi Gnosis Safe dan CowSwap, Gnosis Pay bukan sekadar kartu pembayaran, tapi bagian dari ekosistem keuangan yang benar-benar onchain.
Stablecoins on Safe Spotlight: @gnosispay 💳
$105 MILLION in crypto card payments. 115,000 merchants. 130 countries. 5 continents.
Self-custody stablecoins just bought coffee in Tokyo, paid rent in Berlin, and filled up gas in São Paulo.
Spend anywhere. Self-custody… pic.twitter.com/HHrxnTOgAP
— Safe.eth (@safe) October 16, 2025



FROM CLASSROOM
TO THE MOON
Jadilah bagian dari kelas kripto eksklusif pertama di Bandung
Daftar sekarangMEMBERSHIP
Jadilah bagian dari kelas kripto eksklusif pertama di Bandung
Daftar sekarang