Data On-chain Glassnode: 15% Total Suplai Bitcoin Kini dalam Posisi Rugi

Volubit.id — Harga Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan setelah gagal mempertahankan posisi di dekat titik all-time high (ATH).

Menurut data on-chain dari Glassnode, aset kripto terbesar di dunia ini kini stabil di bawah cost basis pemegang jangka pendek (Short-Term Holders/STH), yang berada di kisaran $113.100.

Secara historis, kondisi seperti ini sering menjadi peringatan dini akan dimulainya fase penurunan jangka menengah. Ketika harga turun di bawah cost basis STH, banyak investor yang membeli BTC di harga tinggi mulai mengalami tekanan psikologis.

Sebagian dari mereka akan memilih menjual asetnya dalam kondisi rugi. Fenomena ini kerap menjadi pemicu awal koreksi pasar yang lebih dalam.

Glassnode mengungkapkan, dalam kondisi ini, pasar seperti sedang menguji keyakinan para investor yang membeli BTC pada level tinggi.

Data historis menunjukkan, setelah Bitcoin anjlok ke bawah level ini usai mencetak ATH, persentase suplai yang masih berada dalam kondisi untung biasanya turun hingga sekitar 85%. Artinya, lebih dari 15% total suplai Bitcoin berada dalam posisi rugi.

Menariknya, pola seperti ini kini terjadi untuk ketiga kalinya dalam siklus pasar saat ini. Jika harga gagal pulih kembali ke atas $113.100, tekanan jual dapat meningkat secara signifikan dan mendorong lebih banyak pasokan masuk ke zona rugi.

Kondisi ini juga mempercepat potensi kapitulasi atau momen ketika investor baru menyerah dan menjual asetnya secara besar-besaran.

Glassnode menyoroti level $113.100 sebagai batas psikologis penting bagi keberlanjutan tren bullish Bitcoin. Dalam metrik Supply Quantile Cost Basis, ada tiga level utama yang menjadi acuan:

  • 0,95 quantile (5% suplai dalam rugi),
  • 0,85 quantile (15% suplai dalam rugi), dan
  • 0,75 quantile (25% suplai dalam rugi).

Saat ini, harga Bitcoin tidak hanya berada di bawah cost basis STH, tetapi juga berjuang untuk tetap berada di atas level 0,85 quantile, yakni sekitar $108.600.

Sejarah menunjukkan, ketika Bitcoin gagal bertahan di atas ambang ini, pasar biasanya mengalami pelemahan struktural dan berlanjut menuju level 0,75 quantile, yang saat ini berada di sekitar $97.500.

Jika skenario ini berulang, Bitcoin berisiko memasuki fase koreksi yang lebih luas. Semakin banyak investor menanggung kerugian dan momentum bullish akan kehilangan daya dorongnya.

Indikasi melemahnya permintaan juga semakin terlihat dari peningkatan aktivitas jual oleh pemegang jangka panjang (Long-Term Holders atau LTH). Data Glassnode mencatat, sejak puncak harga pada Juli 2025, volume penjualan harian oleh kelompok investor ini melonjak tajam.

Rata-rata pergerakan 30 hari (30D-SMA) naik dari sekitar 10.000 BTC per hari menjadi lebih dari 22.000 BTC per hari. Kenaikan signifikan ini menunjukkan adanya gelombang profit-taking dari investor lama yang memilih mengamankan keuntungan di tengah ketidakpastian pasar.

Perpindahan kepemilikan dari tangan investor lama ke pelaku pasar baru seringkali menandakan fase redistribusi yang berisiko tinggi.

Dalam situasi seperti ini, keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi rapuh, yang menciptakan kondisi pasar yang rentan terhadap koreksi lanjutan.

Meski sinyal teknikal dan on-chain menunjukkan potensi pelemahan, beberapa analis menilai kondisi saat ini juga bisa membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi baru.

Selama harga tetap di atas level support struktural di sekitar $97.000–$100.000, Bitcoin masih berpotensi mempertahankan struktur bullish jangka panjangnya.

Namun, jika penurunan menembus level tersebut, pasar mungkin menghadapi fase koreksi yang lebih dalam sebelum menemukan keseimbangan baru.

Dengan volatilitas yang kembali meningkat dan tekanan jual dari investor lama, pasar Bitcoin kini memasuki masa kritis. Kekuatan fundamental dan psikologis investor akan benar-benar diuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *