Volubit.id — Harga emas dunia tengah tergelincir dari puncak tertingginya dalam lima tahun terakhir. Setelah sempat mencatat rekor $4.260 per ons, logam mulia itu anjlok lebih dari 5% hingga ke bawah $4.100. Aksi ambil untung besar-besaran membuat reli emas berhenti mendadak, meninggalkan pasar dalam kegelisahan. Namun, di sisi lain, pelaku pasar mulai menatap arah baru: kemungkinan rotasi kapital dari emas ke Bitcoin.
Fenomena ini mulai mencuat sejak awal pekan ketika lonjakan harga emas diikuti dengan rebound singkat Bitcoin. Kepala Riset Aset Digital Global di Standard Chartered, Geoffrey Kendrick, menyebut pola tersebut sebagai arus “jual emas, beli Bitcoin”. Dalam pandangannya, arus pergerakan dana antara emas dan Bitcoin menjadi indikator penting untuk membaca arah selanjutnya. Kendrick memprediksi rotasi semacam ini akan makin sering terjadi.
“Jika pola ini berulang, itu pertanda konstruktif bahwa harga dasar Bitcoin sedang terbentuk,” kata Kendrick dalam laporan analis terbarunya. Ia menilai pergerakan semacam itu bisa menjadi dasar pembentukan harga bawah bagi Bitcoin, sebuah fase di mana para investor mulai kembali masuk setelah periode koreksi.
🚨LOOK AT THIS!
It shows that $BTC has a limited downside but a massive short potential.
SHORTS ARE STACKING UP!!! pic.twitter.com/2UxxNhVqC9
— Kyle Chassé / DD🐸 (@kyle_chasse) October 22, 2025
Bitcoin sendiri tengah bergerak di fase yang fluktuatif. Setelah menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas $126 ribu pada 6 Oktober 2025, harga kripto itu jatuh akibat meningkatnya kekhawatiran perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada 10 Oktober.
Karena itu, sebelu rotasikapital dariXAU ke TC terjadi, ia memperkirakan akan terjadi penurunan BTC hingga di bawah $100 ribu menjelang akhir pekan ini. Meski demikian, koreksi itu menurutnya kemungkinan bersifat sementara. Penurunan tersebut bisa menjadi kesempatan serok terakhir bagi investor sebelum reli BTC berlanjut.
“Pertanyaannya sekarang, seberapa dalam Bitcoin harus turun sebelum menemukan dasarnya,” ujar Kendrick.
Lonjakan minat beli terhadap aset kripto menurutnya bisa menandakan perubahan besar dalam portofolio global, terutama jika para investor mulai meninggalkan aset lindung nilai tradisional seperti emas. Ia juga memperhatikan kondisi likuiditas global yang mulai mengetat, sembari menunggu langkah The Federal Reserve untuk mengakhiri kebijakan quantitative tightening (QT).
Di pasar derivatif, Bitcoin sempat menimbulkan gelombang besar pada 21 Oktober. Harga BTC berayun dari kisaran $108 ribu ke $114 ribu sebelum kembali turun ke $108 ribu yang memantik short squeeze klasik dan diikuti long liquidation. Data Coinglass mencatat $740 juta dolar posisi leverage terhapus dalam 24 jam di hari jahanam tersebut. Secara total, posisi leverage tersebut terdiri dari $435 juta posisi long dan $304 juta short. Gerakan cepat ini menandakan pasar sedang membersihkan eksposur berlebihan setelah reli panjang selama dua bulan terakhir.
Dari sisi analisis struktural, BTC kini diperdagangkan di bawah short-term holder cost basis di $113.100 berdasarkan data Coinglass. odisi ini menandakan pelemahan momentum dan potensi konsolidasi jangka menengah. Jika gagal mempertahankan level $108.600, Coinglass menyebut koreksi lebih dalam ke kisaran $97.500 bukan hal mustahil.
Kendrick sendiri tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang. Ia mempertahankan target harga Bitcoin di $200 ribu pada akhir 2025, dan $500 ribu pada 2028. Keyakinan itu berakar pada pola historis: setiap kali emas kehilangan kilau akibat tekanan makro, aset digital justru muncul sebagai alternatif baru yang menjanjikan.



FROM CLASSROOM
TO THE MOON
Jadilah bagian dari kelas kripto eksklusif pertama di Bandung
Daftar sekarangMEMBERSHIP
Jadilah bagian dari kelas kripto eksklusif pertama di Bandung
Daftar sekarang